Ketika Budiyani pertama kali datang untuk mendaftar di Amisewaka — DLCC (DLCC), ia membawa
sesuatu yang langsung menarik perhatian: tekadnya yang kuat dan raut wajah yang diam-diam
menyimpan kisah yang lebih dalam. Di balik semangatnya untuk melanjutkan pendidikan, ada keraguan
yang tak dapat ia sembunyikan. Ia khawatir keputusan itu akan menjadi beban bagi orang-orang yang ia
cintai.
Sejak usia yang terbilang sangat muda, Budiyani telah kehilangan kedua orang tuanya. Saat ini, ia tinggal
bersama kakeknya yang sudah lanjut usia, yang kekuatannya terus menurun. Untuk bertahan hidup,
mereka bergantung pada kebaikan orang lain bahkan untuk makan sehari-hari, dan sang kakek terkadang
harus meminjam kepada tetangga. Budiyani juga memiliki dua kakak perempuan yang sudah menikah.
Meski hidup mereka sederhana, keduanya tetap mendukung pendidikan Budiyani dengan berjualan di
kios-kios kecil di sepanjang pantai.
Melalui proses seleksi di DLCC bukanlah hal yang mudah bagi Budiyani. Itu adalah sebuah langkah besar,
jauh melampaui apa yang dulu pernah ia bayangkan tentang hidupnya. Pada satu titik, ia hampir
menyerah. Ia sempat mempertimbangkan untuk berhenti sekolah dan mengambil pekerjaan apa pun
yang bisa ia dapatkan hanya untuk membantu kebutuhan sehari-hari. Pada saat itu, bertahan hidup
terasa jauh lebih mendesak daripada mengejar mimpi.
Namun, setiap kali ia melihat kakeknya semakin lemah, ada sesuatu di dalam dirinya yang mulai
berubah. Ia menyadari bahwa berhenti hanya sampai pendidikan menengah akan membatasi
peluangnya untuk mendapatkan pekerjaan yang stabil dan bermakna. Kesadaran itu menjadi titik
baliknya.
Dukungan yang tak pernah goyah dari kedua kakaknya memegang peranan penting dalam perjalanannya.
Meski memiliki keterbatasan, mereka percaya Budiyani pantas mendapatkan masa depan yang lebih
baik. Perlahan, Budiyani pun mulai percaya bahwa mimpinya untuk bekerja di kapal pesiar atau di
industri perhotelan internasional adalah sesuatu yang mungkin ia capai.
Dengan jantung berdebar, ia menunggu pengumuman akhir. Lalu, kabar yang selama ini ia harapkan
akhirnya datang: Budiyani diterima sebagai salah satu siswa di DLCC.
Air mata bahagia memenuhi matanya. Bagi Budiyani, ini lebih dari sekadar lolos seleksi. Ini adalah
gerbang menuju kehidupan yang selama ini hanya ia bayangkan. Ia percaya langkah kecil ini akan
mengantarkannya pada perubahan yang jauh lebih besar.
Kini, Budiyani melangkah maju dengan keyakinan yang diperbarui. Ia memandang Amisewaka-DLCC
bukan hanya sebagai tempat untuk belajar, melainkan sebagai jembatan menuju kehidupan yang lebih
baik dan lebih bermartabat.
Di akhir kisahnya, ia menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada para donatur yang telah
membuka pintu kesempatan bagi anak-anak muda seperti dirinya.








