GAMELAN SEGARA MADU

Amisewaka bangga memiliki seperangkat instrumen gamelan baru. Karena musik gamelan adalah bagian dari kurikulum, oleh karena itu instrumen haruslah tersedia. Maka, sebuah gamelan dibuat khusus dan dipesan di tempat pengecoran alat-alat gamelan Sidi Rahayu di Sawan, Buleleng, Bali Utara.

Gamelan haruslah unik dan mengikuti perkembangan. Karena Amisewaka berada di dekat laut, tema bahari dengan panel yang menggambarkan sejarah Desa Les dan beberapa kegiatan Amisewaka yang lebih menonjol merupakan pilihan yang sangat logis. Selain itu Gamelan ukir gaya Buleleng Bali Utara menerapkan warna-warna yang sangat cerah. Tak terkecuali Segara Madu, dari sanalah terciptanya sebuah nama dari gamelan kami (Segara Madu berarti Lautan Madu, nama yang diberikan oleh Wayan Dibia, Profesor Emeritus di Institut Seni Indonesia di Denpasar, Bali).

Gamelan ini tidak hanya akan menjadi alat untuk belajar dan menampilkan musik tradisional, tetapi akan menjadi wahana untuk menjelaskan filosofi Hindu, sejarah lokal, dan beberapa elemen yang membentuk AMISEWAKA DESA LES COMMUNITY CENTER kepada siswa dan pengunjung ditampilkan secara bergambar dan sangat mudah diikuti.

Gamelan ini menggambarkan dari berbagai kegiatan yang berhubungan dengan Desa Les. Petani garam bekerja keras untuk membuat garam yang lebih manis, kemakmuran kebun, Amisewaka – Pusat Komunitas Desa Les; Anataboga, kura-kura keramat yang dipercaya orang Bali sebagai fondasi pulau mereka, terjalin dengan dua naga; penyu dan lumba-lumba di perairan Desa Les; instrumen panjang (trompong dan barangan (reyong)) termasuk wajah Dewa Siwa (Dewa Transformasi) dan Dewi Danu (Dewi Danau) dalam pelangi warna magnetik yang terpancar dari wajah mereka. Stand gayor atau gong memiliki Nawa Sanga (9 arah suci) yang diapit oleh dua naga di bagian atasnya.

Ceritanya termasuk Dewi Danau Batur, Dewi Danu, yang datang ke Desa Les berabad-abad yang lalu, mencoba menjual air ke penduduk desa. Namun kecantikan dan pesonanya tersamarkan oleh pakaiannya yang compang-camping dan kekotorannya, dan di sepanjang pantai, orang-orang menolak untuk berurusan dengannya. Namun, sesampainya di Desa Les, mereka menyambutnya dan membelikannya air. Air terjun Yeh Mampeh adalah kesaksian dia memberkati desa dengan air.

TOP